Saat saya sadar telah memliki seorang adik yang ingin saya
lindungi dan bahagiakan
Terlintas dipikiranku ingin menjadikan dia sebagai “Istriku”
Tapi ternyata kata orang-orang, itu tidaklah wajar. Tidak
masuk akal.
Sangat lucu kepolosanku terlihat saat kumasih bocah
Aku memeluknya tanda bahwa aku sayang dia, aku kadang
mencekam lehernya.
Adik kandungku, yang bibirnya terlihat sama sepertiku.
Kini kau telah beranjak dewasa
Meninggalkan kenangan kita bersama
Saat bermain bersama yang sewajarnya anak perempuan lakukan,
berimajinasi,
dan menhabiskan waktu luang. Aku selalu ada buatmu.
Diumurmu yang 16 tahun ini, kau sudah mengharapkan laki-laki
lain
Yang mungkin akan melindungimu, bersamamu selalu, manjadi
seperti apa yang kau harapkan.
Tidak seperti saya, yang selalu membuatmu menangis,
mengganggu kenyamananmu
Karena ku berpikir itu bisa menguatkan tali persaudaraan
kita. Tapi kata mama, itu salah. Saya kakak laki-lakimu.
Aku selalu mengikuti aktivitasmu, saya tahu kau sudah
seperti remaja diluar sana.
Aku cemburu ada orang yang lebih dekat padamu dibandingkan
diriku.
Aku malu untuk mengakui dihadapanmu, saya sayang padamu.
Disaat saya menunggumu pulang sekolah, aku seolah cuek tidak
memperdulikanmu
Saat itu juga kau tidak sadar, tidak mengerti perasaanku
adikku sayang.
Kau mulai berubah saat menginjak masa putih-abu_abu mu, aku
membenci itu.
Segala tingkah lakumu, sudah membuatku jengkel. Siapa yang
membuatmu jadi seperti ini dek?
Kalau kau butuh minta lah sama abangmu ini.
Jangan kau diam-diam, tanpa alasan apapun, kau janganlah
nakal dek.
Uang kah kau butuh.?
Kuberitahu kepadamu adek, susahnya mencari uang dan
gampangnya menghabiskannya. Tapi bukan itu intinya,
Kejujuranmu yang ingin dilihat dalam keluarga kita
Mama, papa tidak pernah mengajar kita untuk mencuri.
Jika pernah, itupun kita khilaf, tak kupungkiri saya juga
pernah.
Tapi belajarlah adek, bertobat. Ada yang tak kau tahu, tapi Pencipta mengetahui.
Semoga bertambahnya umurmu dihari ini, 24 februari.
Kau semakin dewasa, seperti kakak laki-laki/abangmu ini yang
pantas kau banggakan.
Rajin berdoa, jangan seperti saya. Beban rumah ada ditanganmu saat saya tak ada.
Kau saudaraku yang paling kusayang diantara kakak-kakakmu
juga. Elma Valentine Sambo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar