Jumat, 28 Maret 2014

brittle

at the end of this road. 
i'm still waiting for you, for your word.
and when the night come to me, 
i realize that i don't wanna bother.

Selasa, 11 Maret 2014

Blink my eyes




I try to upright my back
Once in a while I turn my eyes to you
Write something I don’t know. Me too
At last I take that picture

Someday you’ll find this draft, maybe I have fall to you
And you never realize ‘bout this
Just like crystal ball, you reflect the inverse of me
Just one day, i become frontal all day

I have sufficient time for this moment
And no one could care, even the Butterflies in my stomach.
When you stare at me, all time going low
I’m still waiting.

Kamis, 06 Maret 2014

Father



Pada kolom ke empat, kursi biru masa depan
Ku terpaku melihat sosok pria tua berambut putih
Sekejap saja ku teringat akan satu pribadi yang selalu kurindukan
Father.

Setiap hari pada waktunya, nama kontak itu selalu ada di Panggilan Masuk.
Kabar kah kau tanyakan? Apakahku sudah makan?  Dimana aku berada? Sedang apa?
Ke-kepo-anmu itu, kadang ku jawab tidak sopan (kata orang). Ku anggap itu sebagai keakraban kita Bapak.
Tak ada sekat diantara kita, kita teman, kita saudara, kita keluarga, like Father – like Son.

Tangan kanan itu, tak pernah kau cerita sebelumnya.Ada 7 jahitan yang disebabkan olehku.
Setiap hari kau menahan rasa lapar hanya untuk keinginan belakaku.
Tulang punggung yang tak kuat lagi untuk dibanting, hanya padaku kau curahkan isi hatimu Bapak.
Kau ingin menghabiskan waktu luangmu dengan ukiran kayu, di pulau orang. Bagaimana dengan rasa rindu ini ?

Selalu ada namaku dalam Doamu Bapak. Tapi apalah diriku, yang selalu mengikuti kemauan daging ini.
Kedalam pelukan seorang ayah, kurindukan keikhlasan itu.
Kedamaian saat bersamanya.
Canda-tawa yang tak pernah habis kau ciptakan.

Aku bangga memiliki seorang ayah sepertimu, tapi apakah..?
Hari ini, Aku berjanji dan bersumpah. Kau ayahku, sauatu saat akan bangga dengan anakmu ini.

Sakit



Badanku terasa berat.
Kakiku sulit tuk bergerak.
Tanganku tak bisa diangkat.

Aku seperti anjing tersesat mencari tulang.
Aku muak.
Aku hanya melonglong pada bintang-bintang itu.
Aku tak punya keberanian untuk melangkah.

Aku akan menajamkan taringku, sehingga apipun takkan mampu menyentuhnya.
Sehingga aku tak perlu melihat bintang itu lagi
Sehingga kerongkongan ini pun takkan tercabik-cabik.

Kebanggaan apa yang setara dengan nyawa?
Ketika seekor binatang dapat melihat cerminan bulan di permukaan air.
Tapi mencoba untuk menangkap bayangan itu,
hanya akan mengakibatkan tenggelam dalam air.