Pada kolom ke empat, kursi biru masa depan
Ku terpaku melihat sosok pria tua berambut putih
Sekejap saja ku teringat akan satu pribadi yang selalu
kurindukan
Father.
Setiap hari pada waktunya, nama kontak itu selalu ada di
Panggilan Masuk.
Kabar kah kau tanyakan? Apakahku sudah makan? Dimana aku berada? Sedang apa?
Ke-kepo-anmu itu, kadang ku jawab tidak sopan (kata orang).
Ku anggap itu sebagai keakraban kita Bapak.
Tak ada sekat diantara kita, kita teman, kita saudara, kita
keluarga, like Father – like Son.
Tangan kanan itu, tak pernah kau cerita sebelumnya.Ada 7
jahitan yang disebabkan olehku.
Setiap hari kau menahan rasa lapar hanya untuk keinginan
belakaku.
Tulang punggung yang tak kuat lagi untuk dibanting, hanya
padaku kau curahkan isi hatimu Bapak.
Kau ingin menghabiskan waktu luangmu dengan ukiran kayu, di
pulau orang. Bagaimana dengan rasa rindu ini ?
Selalu ada namaku dalam Doamu Bapak. Tapi apalah diriku,
yang selalu mengikuti kemauan daging ini.
Kedalam pelukan seorang ayah, kurindukan keikhlasan itu.
Kedamaian saat bersamanya.
Canda-tawa yang tak pernah habis kau ciptakan.
Aku bangga memiliki seorang ayah sepertimu, tapi apakah..?
Hari ini, Aku berjanji dan bersumpah. Kau ayahku, sauatu
saat akan bangga dengan anakmu ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar