Kamis, 01 Mei 2014

the day before yesterday II



Hari terburuk sepanjang sejarah menjadi seorang tentor
29-April-2014. 7.30-8.00 pm
Seorang FO dari RPC Sudiang tiba-tiba menelpon, pikirku ini panggilan mengajar untuk hari ini. Ku tekanlah tombol hijau itu. “Halo, iya kak. Ada apa?” sapaku yang selalu dengan eksprresi heran. “kau bisa ngajar untuk intensif UN SMP kah?” dengan waktu 3 detik, aku memikirkan semua rencana kegiatanku, semua jadwal kesibukanku. Aku mempertimbangkan untuk mengajar privatku di Anggy, tapi kurasa itu tidak terlalu terikat karena Anggy besoknya libur. JADI KU KATAKAN “IYA”. Disinilah asal-mu-asal managemen waktuku yang keliru. Aku menyesal. Aku tidak berpikir panjang.
30-April-2014. 5.30-8.00 pm
Pengaturan waktuku hanya sejam dari Kampus Parang-Tambung menuju RPC Sudiang, seperti biasanya, hanya SEJAM. Tapi kali ini tidak. Semua diluar dugaan, awan hitam terlihat menggumpal. Apakah Naga Kohaku kembali ingin menantangku? Mereka (awan) terlihat menyeramkan. Aku memberanikan diri untuk menghadapinya.
Sialnya, perlahan hal yang kutakutkan datang. Tetesan air yang jatuh sudah terasa di kulit tangan kananku. Sedikit demi sedikit menjadi semakin banyak. Hingga akhirnya mereka datang mengeroyokku, menghambat niatku untuk berbagi ilmuku. Entah ungkapan apa yang tepat untuk situasi ini, entah siap yang ingin aku salahkan. Berteduhlah ku dibawah kios pedagang kaki lima, sambil pemilik tokonya membereskan dagangannya yang sedikit terkena hujan. Hampir setengah jam saya menungguair yang jatuh itu untuk berhenti. Setidaknya saya bisa melanjutkan perjalanan tanpa basah kuyup seperti bulan-bulan sebelumnya.
Sepanjang perjalanan yang kupikirkan hanyalah sebuah penyesalan dan rasa ingin kembali ke kost atau mengajar privat di Anggy. Karena saya tahu tidur di kost-an lebih nyaman atau mengajar privat lebih menarik disbanding ini. Tapi saya tahu inilah yang disebut tanggung jawab dan komitmen

Di persimpangan Telkommas aku memutar balik arahku untuk istirahat, memikirkan semua ini. Ku rogoh kantungku meraih handphoneku untuk mengirim pesanke FO RPC Sudiang “Maaf, kayaknya saya tidak bisa masuk mengajar”. Sambil mengirim pesan juga ke Anggy untuk rencana mengajar privat. Anggy membalas dia oke-oke saja untuk belajar bergantung pada saya. Tapi disinilah masalah itu dimulai. Aku mendapat sms yang ada kata “jangan”. Aku langsung saja berpaling tanpa berpikir 100 kali, tidak seperti biasanya. Ku tancap gas motorku. Tidak menghiraukan resiko penyesalan selanjutnya.

Hingga pada akhirnya kudapatkan sms ke 2 “jangan. Siswa menunggu”. Semua itu baru terpikirkan, ini tanggung jawabku, kenapa aku lari dari tanggung jawabku? Mungkin sudah 5 kilometer kujalani, hanya penyesalan ku pikirkan. Dan akhirnya juga aku memutar balik (lagi). Saat itu sudah didepan kantor Gubernur mencari kapsul untuk memutar arah.

Aku bersalah, aku pengecut. Aku hanya ingin di zona nyamanku. Aku hanya mementingkan kesenanganku. Melalaikan tanggung jawabku.Macet, hujan, basah kuyup semua kujadikan kambing hitam pelarian. Menyalahkan semua yang bisa kulihat. Tuhan juga mengkin sudah kecewa terhadapku, menangisiku yang selalu teledor dan tidak bertanggung jawab. Sudah 2 kali mendapatkan hujan deras ini. Tanda bahwa aku gagal menyelesaikan masalahku (you’ve failed to solve the problem). Dingin yang merasuk ke tulangku dari baju biru yang kukenakan, menambah kekecewaanku saja.

Pelajaran hari ini, atur waktumu, perbaiki yang salah, minta maaf karena kau bersalah, jangan mencari kambing hitammu, berpikir 101kali lagi ketika kau bimbang, dank au harus hidup tanpa meninggalkan penyesalan.
Untuk Adik-adik SMP yang niatku untuk kuajar, maafkan saya. Saya janji di kesempatan berikutnya, saya akan berusaha untuk membimbing kalian untuk UN matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar